Senin, 26 Maret 2018


Oleh,
Fridolin V. Borolla
Risky T. Arya

PROBLEMATIKA PERUBAHAN KONSEPTUAL DI SD


BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Konsep merupakan bagian dasar yang harus dipahami setiap peserta didik dalam setiap pembelajaran. Menurut Hirwan (dalam Susanti, 2004: 4) konsep adalah gagasan atau ide yang merupakan hasil pikiran manusia yang merangkum beberapa pengalaman mengenai peristiwa, benda atau fakta. Oleh karena itu pemahaman konsep yang benar sangat diperlukan agar tidak terjadi kesalahan dalam proses pembelajaran. Di dalam suatu proses pembelajaran sering kali terdapat berbagai macam hambatan yang membuat kegiatan belajar mengajar menjadi terganggu. Hambatan yang terjadi dalam proses pembelajaran adalah rendahnya pemahaman konsep peserta didik.
Pemahaman salah satu konsep berpengaruh terhadap konsep yang lain. Proses pembelajarannya menjadi rumit karena setiap konsep harus dikuasai dengan benar sebelum mempelajari konsep lainnya. Dalam proses menyatukan informasi baru ke dalam struktur kognitif, siswa seringkali mengalami kesulitan bahkan kegagalan. Hal inilah yang kemudian menjadikan timbulnya berbagai pemahaman konsep yang berbeda dari setiap siswa, dan memungkinkan terjadinya miskonsepsi. Miskonsepsi adalah konsepsi yang dimiliki seseorang yang jelas-jelas berbeda bahkan sering bertentangan dengan konsep ilmiah.
Miskonsepsi yang dialami siswa dalam mempelajari konsep-konsep yang ada banyak dipengaruhi oleh prakonsepsi siswa yang berasal dari pengalaman sehari-hari dan lingkungan sekitar. Siswa menghadiri kelas tidak dengan kepala kosong, melainkan telah membawa sejumlah pengalaman-pengalaman atau gagasan-gagasan yang dibentuk sebelumnya ketika berinteraksi dengan lingkungannya.
Prakonsepsi menjadi prasyarat penting untuk mengkonstruksi pengetahuan dan hasil belajar individu. Hal ini karena tujuan belajar adalah memasukkan informasi baru ke dalam struktur memori yang ada sehingga prakonsepsi yang dimiliki siswa digunakan untuk mengasimilasi pengetahuan yang baru. Proses pembelajaran yang tidak menghiraukan prakonsepsi siswa, akan mengakibatkan miskonsepsi–miskonsepsi siswa semakin kompleks dan stabil. Miskonsepsi ini sangat resisten terhadap perubahan. Artinya, miskonsepsi yang dialami siswa tidak mudah untuk diubah langsung menjadi konsep ilmiah. Hal ini dikarenakan prakonsepsi siswa memainkan peranan penting dalam mempelajari konsep-konsep baru dan menjadi acuan ketika siswa harus berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain, termasuk dalam interaksi dengan guru secara formal di sekolah.
Mengatasi miskonsepsi bermakna menginginkan perubahan konsepsi atau konsep pada pembelajar. Kata konsep bermakna abstraksi dari ciri-ciri sesuatu yang mempermudah manusia dalam berkomunikasi dan berfikir. Sedangkan konsepsi adalah penafsiran seseorang tentang suatu konsep. Perubahan konsep itu sendiri adalah suatu proses bagaimana konsepsi yang baru dapat menggantikan konsepsi yang lama. Atau dengan kata lain bagaimana merubah pandangan, cara pandang, atau keyakinan seseorang dari yang sudah tertanam dalam hati dan fikirannya dengan suatu pandangan atau keyakinan yang baru. proses ini tentunya amat sulit.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang yang telah dijabarkan, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
1.        Apa yang dimaksud dengan konsep?
2.        Apa yang dimaksud dengan miskonsepsi?
3.        Apa yang dimaksud dengan perubahan konseptual peserta didik?
4.        Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran perubahan konseptual?



C.      Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka dapat dibentuk tujuan seagai berikut.
1.      Untuk mengetahui pengertian konsep.
2.      Untuk mengetahui pengertian miskonsepsi.
3.      Untuk mengetahui pengertian perubahan konseptual peserta didik.
4.      Untuk mengetahui model pembelajaran perubahan konseptual




BAB II
PEMBAHASAN


A.      Konsep
1.        Pengertian Konsep
Konsep merupakan bagian dasar yang harus dipahami setiap peserta didik dalam suatu pembelajaran. Konsep merupakan prinsip dasar yang sangat penting dalam proses belajar. Konsep merupakan sarana seseorang dalam mengklasifikasikan suatu obyek dan jaringan pemikiran (ide) untuk menenntukan prinsip dan aturan, dan semua itu merupakan fondasi dari bagaimana jaringan pemikiran atau ide tersebut dapat tersusun guna menuntut seseorang itu dalam berfikir (Arends dalam Sudarmo, 2009:171).
Pembentukan konsep meruakan bentuk perolehan konsep yang penting awal. Pembentukan konsep berawal dari sejak masih anak-anak, konsep yang terbentuk sejak anak-anak itu berkembang dan mengalami modifikasi-modifikasi sesuai dengan bertambahnya pengalaman. Konsep yang terbentuk pada tahap ini umumnya merupakan konsep-konsep konkrit, dan merupakan proses induktif, yaitu berawal dari abstraksi-abstraksi dari sifat-sifat atau atribut-atribut tertentu yang berasal dari berbagai stimullus-stimulus. Abstraksi atribut-atribut mula-mula dalam bentuk yang sederhana yang akhirnya berkembang menjadi lebih kompleks sesuai dengan bertambahnya pengalaman belajar (Sudarmo, 2009: 172).

B.       Miskonsepsi
1.        Pengertian Miskonsepsi
Menurut Solehah dan Suyono (2014) menyatakan bahwa miskonsepsi adalah konsepsi yang dimiliki seseorang yang jelas-jelas berbeda bahkan sering bertentangan dengan konsep ilmiah. Miskonsepsi yang dialami siswa dalam mempelajari konsep-konsep yang ada banyak dipengaruhi oleh prakonsepsi siswa yang berasal dari pengalaman sehari-hari dan lingkungan sekitar. Siswa menghadiri kelas tidak dengan kepala kosong, melainkan telah membawa sejumlah pengalaman-pengalaman atau gagasan-gagasan yang dibentuk sebelumnya ketika berinteraksi dengan lingkungannya. Paparan di atas menunjukkan bahwa miskonsepsi terjadi karena pengetahuan awal bertentangan dengan pengetahuan baru secara ilmiah. Namun demikian prakonsepsi atau pengetahuan awal siswa sangat dibutuhkan untuk dikaitkan dengan pengetahuan baru yang akan diterima. Sejalan dengan itu, menurut (Solehah dan Suyono. 2014) prakonsepsi menjadi prasyarat penting untuk mengkonstruksi pengetahuan dan hasil belajar individu. Hal ini karena tujuan belajar adalah memasukkan informasi baru ke dalam struktur memori yang ada sehingga prakonsepsi yang dimiliki siswa digunakan untuk mengasimilasi pengetahuan yang baru.

2.        Penyebab Miskonsepsi
Menurut Suparno (2013) dalam (Rosmalia, 2016) menyatakan bahwa penyebab miskonsepsi secara garis besar ada lima kelompok yaitu: siswa, guru, buku teks, konteks, dan metode mengajar.
1)        Siswa
Miskonsepsi yang berasal dari siswa dapat dikelompokkan dalam beberapa hal, antara lain.
a.         Prakonsepsi atau konsep awal siswa
Siswa sudah mempunyai konsep awal atau prakonsepsi tentang suatu bahan sebelum siswa mengikuti pelajaran formal di bawah bimbingan guru.
b.        Pemikiran Asosiatif Siswa
Asosiasi terhadap istilah-istilah sehari-hari kadang-kadang juga membuat miskonsepsi. Kata dan istilah yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran diasosiasikan lain oleh siswa, karena dalam kehidupan mereka, kata dan istilah itu mempunyai arti yang lain.
c.         Intuisi yang Salah
Intuisi adalah suatu perasaan dalam diri seseorang yang secara spontan mengungkapkan sikap atau gagasannya tentang sesuatu sebelum secara obyektif dan rasional diteliti. Intuisi yang salah dan perasaan siswa dapat menyebabkan miskonsepsi.
d.        Tahap Perkembangan Kognitif Siswa
Siswa yang masih dalam tahap operasional konkret apabila mempelajari bahan yang abstrak akan sulit menangkap dan sering salah mengerti tentang konsep bahan tersebut. Perkembangan kognitif siswa yang tidak sesuai dengan bahan yang digeluti dapat menjadi miskonsepsi siswa.
e.         Kemampuan Siswa
Kemampuan siswa juga mempengaruhi miskonsepsi siswa. Siswa yang intelegensi matematis-logisnya kurang tinggi akan mengalami kesulitan dalam menangkap konsep terutama konsep yang abstrak.
f.         Minat belajar siswa
Siswa yang berminat cenderung mempunyai miskonsepsi lebih rendah daripada siswa yang tidak berminat. Siswa yang tidak berminat apabila salah dalam menangkap suatu bahan maka tidak berminat juga untuk mencari mana yang benar dan mengubah konsep yang salah sehingga kesalahan untuk bahan-bahan yang dibangun berdasarkan minskonsepsi akan semakin menumpuk.
2)        Guru
Guru yang tidak menguasai bahan atau mengerti bahan secara tidak benar akan menyebabkan siswa mendapatkan miskonsepsi karena guru yang tidak memahami konsep akan meneruskan salah pengertian tersebut kepada siswa.
3)        Buku Teks
Buku teks dapat menyebarkan miskonsepsi yang disebabkan Bahasa yang sulit atau penjelasan yang tidak benar sehingga minskonsepsi tetap diteruskan.
4)        Konteks
Konteks juga dapat menjadi penyebab miskonsepsi. Konteks tersebut antara lain pengalaman siswa, Bahasa sehari-hari, teman lain, keyakinan dan ajaran agama.


5)        Metode mengajar
Metode yang digunakan guru dapat memunculkan miskonsepsi sehingga guru perlu kritis dengan metode yang akan digunakan dan tidak membatasi diri dengan satu metode saja.

3.        Identifikasi Miskonsepsi
Menurut Suwarto, (2013) dalam (Solehah dan Suyono. 2014) miskonsepsi yang lebih kompleks dapat menggangu pembentukan konsep ilmiah pada struktur kognitif siswa. Oleh karena itu, guru hendaknya memperhatikan konsepsi awal yang dibawa siswa sebelum memberikan konsep yang baru karena setiap siswa memiliki konsepsi masing-masing berdasarkan pengalaman mereka sebelumnya. Selain itu, miskonsepsi perlu dideteksi sehingga guru dapat menentukan pembelajaran remidiasi yang harus dilakukan. Sederhananya mengidentifikasi miskonsepsi siswa sangat diperlukan sebagai pengetahuan guru sebelum memberikan pengetahuan baru kepada siswa agar terjadi perubahan konseptual sesuai konsep ilmiah.
Dalam mengidentifikasi miskonsepsi yang dialami oleh siswa maka guru dapat melakukan tes diagnostic dengan tujuan agar guru dapat mengetahui miskonsepsi yang dialami oleh siswa. Sejalan dengan itu (Suwarto, 2013) dalam (Septiana, dkk. 2014) menyatakan bahwa tujuan dilakukannya tes ini adalah untuk menentukan pengajaran yang perlu dilakukan di masa yang akan datang. Salah satu bentuk tes diagnostik adalah dengan menggunakan Two-Tier Multiple Choice (TTMC). TTMC adalah sebuah tes diagnostik berupa soal pilihan ganda bertingkat dua yang dikembangkan pertama kali oleh David F. Treagust pada tahun 1988.
Tingkat pertama berisi tentang pertanyaan mengenai konsep yang diujikan sedangkan tingkat kedua berisi alasan untuk setiap jawaban pada pertanyaan di tingkat pertama sebagai bentuk tes diagnosa. Dengan menggunakan instrumen ini kemungkinan siswa untuk menebak jawaban benar dapat diperkecil menjadi 4% (Tuysuz, 2009) dalam (Septiana, dkk. 2014). Dengan kata lain, melalui tes diagnostic bertingkat maka siswa dalam menjawab pertanyaan dengan menggunakan cara menebak dapat diminimalisir sehingga guru akan memperoleh informasi yang benar-benar valid terkait miskonsepsi yang dialami siswa.

4.        Miskonsepsi Siswa dalam Pembelajaran
Solehah dan Suyono (2014) dalam proses menyatukan informasi baru ke dalam struktur kognitif, siswa seringkali mengalami kesulitan bahkan kegagalan. Hal inilah yang kemudian menjadikan timbulnya berbagai pemahaman konsep yang berbeda dari setiap siswa, dan memungkinkan terjadinya miskonsepsi. Sesuai dengan hal itu hasil wawancara yang dilakukan dengan salah satu guru kelas 3 SDN Polowijen 04 memberikan informasi bahwa guru menemukan miskonsepsi siswa terhadap beberapa materi dan dipersentasikan sebesar 30% dari 28 jumlah siswa atau sama dengan 8 orang siswa. Masalah yang muncul adalah misalnya pada materi kebersihan lingkungan. Terdapat kenyataan bahwa siswa memiliki kebiasaan di rumah dengan membuang sampah sembarangan. Hal ini tentunya bertentangan dengan ilmu yang diajarkan yaitu membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. Selanjutnya, ditemukan permasalahan serupa pada SDN Polowijen 1 pada kelas 3, guru mengalami kesulitan dalam mengatasi miskonsepsi siswa dikarenakan konsentrasi dan perilaku siswa yang dilatarbelakangi oleh keberadaan siswa yang berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Orang tua di rumah tidak memfasilitasi siswa dengan belajar di rumah. Sehingga, siswa saat datang di sekolah terkadang masih tidak membawa konsep materi yang akan di pelajari pada saat pertemuan di kelas saat itu. Sejalan dengan itu menurut (Suwarto, 2013) dalam (Septiana, dkk. 2014) miskonsepsi yang lebih kompleks dapat menggangu pembentukan konsep ilmiah pada struktur kognitif siswa. Terdapat pula, miskonsepsi yang dialami siswa dikarenakan pemahaman yang dimiliki siswa bertolak belakang dengan konsep yang benar. Misal, saat materi tentang perkalian. Saat menuliskan perkalian dengan metode penjumlahan, siswa terbalik saat menuliskan cara dengan metode penjumlahan.
Paparan hasil wawancara di atas memiliki kesamaan miskonsepsi dalam pembelajaran di kelas 4 SDN Polowijen 01. Hal itu terlihat pada mata pelajaran IPA dengan materi Peduli Terhadap Lingkungan. Menurut guru tersebut miskonsepsi itu terlihat ketika diadakan tanya jawab pada apersepsi tentang melestarikan lingkungan di lingkungan masyarakat. Ditemukan siswa menjawab bahwa dengan melakukan kegiatan penebangan kayu yang dilakukan oleh orang tuanya dapat membantu pembiayaan kehidupan sehari-hari dan kebutuhan pendidikannya. Selain itu, terdapat pada materi tentang menghemat energi, siswa dirumah yang difasilitasi AC oleh orangtuanya, siswa tersebut menyalakan AC saat merasa panas di dalam rumah. Namun, pada teori atau konsep materi yang sesungguhnya bahwa penggunaan AC dapat meningkatkan terjadinya pemanasan global. Tentunya hal ini sangat bertolak belakang dengan konsep awal siswa dengan konsep yang sesungguhnya.

C.      Perubahan Konseptual
1.        Pengertian Perubahan Konseptual
Teori pertama tentang perubahan konseptual diusulkan oleh Posner et al dalam (Suratno, 2008) terdapat dua jenis perubahan konseptual dijelaskan dalam teori ini dengan menggunakan dua istilah Piaget: asimilasi dan akomodasi. Pertama, konsep baru diasimilasi oleh struktur pra-konseptual. Kedua, konseptual struktur diakomodasi jika konsep pada siswa bertentangan dengan konsep baru yang dipelajari. Selanjutnya Posner et al menyatakan bahwa akomodasi tergantung pada beberapa kondisi. Kondisi ini tercantum di bawah ini:
a) Ketidakpuasan siswa dengan konsep yang ada.
b) Masuk akalnya konsep baru.
c) Kejelasan konsep baru.
d) Manfaat konsep baru (Hüseyin Küçüközer, 2008).
Posner et al. (1982) dalam (Suratno, 2008) memandang proses perubahan konseptual diawali oleh proses asimilasi kemudian akomodasi. Akan tetapi, pada umumnya proses perubahan konseptual cenderung evolusi ketimbang revolusi (Gunstone, 1997) dalam (Suratno, 2008). Sejalan dengan itu menurut Suratno, 2008 menyatakan bahwa istilah perubahan konseptual didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana siswa memegang konsepsi serta keyakinan yang siswa miliki dimana keduanya (konsepsi dan keyakinan) bertentangan dengan apa yang sedang dipelajari sehingga siswa memutuskan untuk merubahnya.
Perubahan konseptual merupakan suatu proses memodifikasi pengetahuan awal siswa (yang seringkali tidak tepat) menjadi pengetahuan baru yang sesuai dengan pengetahuan ilmiah atau yang telah disepakati parah ahli (Hedge & Meera, 2012;Docktor & Mestre, 2014; Ryan et al., 2016 dalam Sutopo, dkk, 2016: 256). Perubahan konseptual memerlukan pembelajaran yang memungkinkan siswa mengembangkan konsep-konsep baru dan memperbaiki cara berpikir.

2.        Proses perubahan konseptual dalam pembelajaran
Dalam proses perubahan konseptual terdapat beberapa proses meliputi proses mengenali (recognizing), mengevaluasi (evaluating) konsepsi dan keyakinan, kemudian memutuskan (deciding) apakah perlu membangun ulang (reconstructing) atau tidak konsepsi dan keyakinan tersebut dengan yang baru (Gunstone, 1994) dalam (Suratno, 2008). Rumusan yang dikemukakan oleh Gunstone sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Postner et al (1982) dalam (Suratno, 2008) ketidakpuasan terhadap konsepsi yang ada, intelligible, plausible dan fruitful, dimana ketidakpuasan dan fruitful merupakan faktor penting dalam proses perubahan konseptual. Ketidakpuasan dan fruitful pada dasarnya secara psikologis sangatlah sulit dan bergantung kognisi individu, terutama metakognisi. Faktor lain yang mempengaruhi proses perubahan konseptual adalah faktor kontekstual. Artinya, siswa bisa saja menerima dan memahami konsep ilmiah pada konteks tertentu, tetapi bisa saja tetap menggunakan konsepsi awalnya (bersifat miskonsepsi) pada konteks lain.
Berdasarkan hasil wawancara di 2 SD yaitu pada SDN Polowijen 1 dan 4, ditemukan bahwa guru dalam melakukan proses perubahan konseptual kepada siswa masih cenderung menggunakan ceramah dengan hanya menggunakan proses mengenali hingga mengevaluasi saja, namun dalam memutuskan dan mengkonstruk ulang konsep yang ada masih belum dilakukan dengan maksimal. Hal ini dikarenakan, guru juga masih belum menemukan alternatif lain dalam mengkonstruk ulang konsep yang sudah ada menjadi konsep yang baru yang nantinya dapat dikaitkan ke dalam kehdupan sehari-hari. Hal ini juga disebabkan oleh sumber bahan ajar yang berupa buku pegangan yang dirasa kurang begitu fokus dalam sauaru materi tertentu dan keberagaman pola berpikir siswa yang masih belum berpikir tingkat tinggi serta siswa yang masih belum mendapatkan fasilitas penuh dari orangtua mengenai pemehaman dan penguatan konsep saat berada di rumah.
Posner et al  dalam (Suratno, 2008) mengangkat empat kondisi sebagai alternative dalam melakukan perubahan konseptual bisa berlangsung. Pertama, siswa harus merasa tidak puas dengan konsepnya yang ada. Pembelajar diberi pengalaman sedemikian rupa sehingga menimbulkan ketidakpercayaannya terhadap konsepnya bisa menyelesaikan masalah. Kedua, konsep yang baru (pengganti) harus intelligible; pembelajar dapat memahami dengan cukup bahwa pengalaman atau stimuli yang datang dapat dicerna oleh akal pikiran. Ketiga, konsep baru harus kelihatan plausible. Plausible bermakna bahwa konsep baru sekurangkurangnya muncul sebagai suafu solusi yang mampu menyelesaikan masalah ketimbang konsep terdahulu. Keempat, konsep baru haruslah fruitful, yaitu punya kemampuan untuk membuka peluang-pelung baru bagi penjelajahan pengetahuan.
Sesuai dengan empat kondisi yang seharusnya ada untuk menciptakan perubahan konsptual kepada anak, guru pada SDN Polowijen 1 dan 4 masih belum dapat menciptakan 4 kondisi tersebut dengan baik dikarenakan keadaan siswa yang beragam dari latar belakang keluarganya. Guru merasa kesulitan dengan menciptakan kondisi tersebut juga karena kemauan atau minat belajar siswa dalam memperoleh pengetahuan masih belum sepenuhnya berjalan maksimal. Hal ini kembali dikarenakan faktor lingkungan dan orangtua siswa itu sendiri yang masih kurang maksimal dalam memfasilitasinya. Guru sudah berusaha menanamkan konsep yang benar kepada siswa, namun saat siswa kembali ke rumah, siswa tidak dapat menguatkan atau lebih mendalami lagi dengan cara mengembangkan. Hal ini dikarenakan, siswa sesampainya di rumah hanya beristirahat atau bermain dengan teman-temannya di rumah. Sehingga, di saat keesokan harinya guru mengulas kembali siswa lupa bahkan kembali kepada konsep awal mereka yang salah dikarenakan tidak adanya klarifikasi dan penguatan dari orangtua.
Selain faktor kontekstual, juga terdapat faktor lain yang mempengaruhi proses perubahan konseptual pada siswa adalah dalam ingatan jangka panjang siswa, tidak terbentuk jaringan pengetahuan (network of knowledge), hanya sekedar tumpukan yang asosiatif saja. Jika hal ini terus menerus terjadi, maka siswa akan melupakan konsep yang sudah lama diterimanya dan digantikan dengan konsep yang baru diterimanya. Dengan begitu perubahan konseptual mungkin saja dialami siswa.
Makna dari suatu konteks di sini adalah dari segi penerapan konsep, konsepnya sama tetapi contoh kasusnya berbeda. Oleh karena itu, karakteristik dari perubahan konsep adalah bersifat kontekstual dan tidak stabil (Gunstone, 1997) dalam (Suratno, 2008). Perubahan konsep yang bersifat jangka panjang dan stabil baru bisa tercapai bila siswa mengenali hal-hal yang relevan dan sifat umum dari konsep ilmiah secara kontekstual.
Selain itu, dalam melakukan proses perubahan konseptual terhadap siswa maka dapat dilakukan dengan menerapkan suatu model yang relevan dengan proses perubahan konseptual yaitu dengan menggunakan model pembelajaran perubahan konseptual.
D.      Model Pembelajaran Perubahan Konseptual
Menurut Solehah dan Suyono (2014) salah satu model pembelajaran yang dapat mereduksi miskonsepsi siswa yang disebabkan oleh kognisi siswa seperti prakonsepsi/pengetahuan awal siswa adalah model pembelajaran conceptual change. Hal ini karena model pembelajaran conceptual change mampu merubah miskonsepsi atau intuisi-intuisi yang dimiliki siswa menjadi konsep ilmiah dan meningkatkan pemahaman siswa.
Hal serupa dikatakan oleh Baser (2006) dalam (Solehah dan Suyono, 2014) bahwa conceptual change dapat digunakan sebagai model pembelajaran yang berhubungan dengan miskonsepsi. Hal ini karena conceptual change dirancang untuk membantu pemerolehan konsep baru sebagai konsekuensi dari pertukaran dan perbedaan dari konsep-konsep yang ada serta pemaduan antara kedua konsep tersebut. Pada model pembelajaran conceptual change ini, siswa diminta untuk mengungkapkan konsepsi dengan cara menafsirkan peristiwa baik yang dikenal maupun tidak. Kemudian mendiskusikan dan mengevaluasi prasangka (pengetahuan awal). Berdasarkan paparan di atas maka dapat dikatakan bahwa model pembelajaran conceptual change merupakan salah satu alternative dalam meminimalisir tingkat miskonsepsi siswa.
Selanjutnya menurut Solehah dan Suyono (2014) menciptakan konflik konseptual (konflik kognitif). Cara yang ditempuh adalah dengan menghadirkan suatu diskrepansi peristiwa melalui berbagai bentuk percobaan atau bukti data yang membantah konsepsi awal siswa. Pada tahap ini diharapkan terjadi proses akomodasi yang menghasilkan konsep baru yang bersifat ilmiah. Tahap terakhir, mendorong dan memandu restrukturisasi konseptual.
Dalam penerapan model pembelajaran perubahan konseptual, siswa dihadapkan pada tiga pilihan, yaitu: (1) mempertahankan intuisinya semula, (2) merevisi sebagian intuisinya melalui proses asimilasi, dan (3) merubah pandangannya yang bersifat intuisi tersebut dan mengakomodasikan pengetahuan baru. Perubahan konseptual terjadi ketika siswa memutuskan pada pilihan yang ketiga. Agar terjadi proses perubahan konseptual, belajar melibatkan pembangkitan dan restrukturisasi konsepsi-konsepsi yang dibawa oleh siswa sebelum pembelajaran (Brook & Brook, 1993) dalam (Rapih dan Sutaryanto. 2017). Penerapan model pembelajaran perubahan konseptual akan berimplikasi bahwa mengajar bukan hanya melakukan transmisi pengetahuan tetapi memfasilitasi dan memediasi agar terjadi proses negosiasi makna menuju pada proses perubahan konseptual (Hynd, et al,. 1994) dalam (Rapih dan Sutaryanto. 2017).
Dalam proses perubahan konseptual terdapat beberapa proses meliputi proses mengenali (recognizing), mengevaluasi (evaluating) konsepsi dan keyakinan, kemudian memutuskan (deciding) apakah perlu membangun ulang (reconstructing) atau tidak konsepsi dan keyakinan tersebut dengan yang baru (Gunstone,1994) dalam (Suratno, 2008). Namun, pada dasarnya, sintaktikal dari strategi ini meliputi tiga tahapan utama (Anderson, 1987) dalam (Suratno, 2008) yaitu tahap persiapan perubahan konseptual, tahap penyajian konsep dan tahap penerapan dan integrasi. Pada tahap persiapan, siswa mulai diajak untuk memikirkan fenomena yang akan diajarkan dalam, mendiskusikan penjelasan tiap siswa serta diarahkan untuk menyadari keterbatasan alternative conception yang mereka miliki. Pada tahap penyajian, guru menjelaskan konsep-konsep dasar. Pada tahap penerapan dan integrasi, siswa menerapkan konsep ke dalam konteks yang berbeda serta mengintegrasikan konsep yang telah mereka pahami.
Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan model pembelajaran perubahan konseptual menurut Posner Et Al dalam (Periyanti, dkk. 2015) sebagai berikut:
1.      Sajian masalah konseptual dan kontekstual
2.      Konfrontasi miskonsepsi terkait dengan masalah-masalah tersebut.
3.      Konfrontasi sangakalan berikut strategi-strategi demonstrasi, analogi, atau contoh-contoh tandingan.
4.      Konfrontasi pembuktian konsep dan prinsip secara ilmiah.
5.      Konfrontasi materi dan contoh-contoh kontekstual.
6.      Konfrontasi pertanyaan-pertanyaan untuk memperluas pemahaman dan penerapan pengetahuan secara bermakna







BAB III
PENUTUP



A.      Kesimpulan
Pembelajaran yang baik dan ideal adalah pembelajaran yang mampu memahamkan konsep ilmiah kepada struktur kognitif siswa untuk mereduksi miskonsepsi yang diawali dengan prakonsepsi. Prakonsepsi siswa yang cenderung miskonsepsi bukan mutlak sesuatu yang keliru terhadap konsep ilmiah, namun merupakan suatu pengetahuan yang bersumber dari pengalam sehari-hari dalam leingkungan dimana siswa itu bersosialisasi. Miskonsepsi tersebut haruslah diidentifikasi oleh guru sebelum memulai pembelajaran dengan cara mengadakan tes diagnostic yaitu dengan melakukan tes pilihan ganda bertingkat atau Two-Tier Multiple Choice (TTMC). Miskonsepsi tersebut perlu dilakukan sebuah tindakan oleh guru yaitu dengan melakukan perubahan konseptual melalui proses asimilasi dan akomodasi pada struktur kognitif siswa.
Perubahan konseptual tersebut diperlukan agar pengetahuan siswa yang sebelumnya bertentangan dengan teori secara ilmiah yang disepakati oleh para ahli menjadi searah. Kendati demikian, perubahan konseptual tidak semudah membalikan telapak tangan. Dalam proses perubahan konseptual tentunya terdapat kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru. Oleh karena itu, salah satu cara untuk dapat melakukan perubahan konseptual adalah dengan menerapkan model pembelajaran perubahan konseptual atau conseptual change.






DAFTAR RUJUKAN

Rapih, Subroto & Sutaryanto. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran Perubahan Konseptual (MPPK) Terhadap Hasil Belajar IPS dan Sikap Multikultural Siswa Sekolah Dasar Berlatar Belakang Monokultur. Dari Jurnal: diakses 16 Maret 2018.
Rosmalia, Putri, Linda. 2016. Miskonsepsi Pembelajaran Matematika. Tesis: diakses 17 Maret 2018.
Septiana, Dwi. Zulfiani. Noor, Fadilah Meiry. 2014. Identifikasi Miskonsepsi Siswa Pada Konsep Archaebacteria Dan Eubacteria Menggunakan Two-Tier Multiple Choice. Dari Jurnal: diakses 16 Maret 2018.
Sholehah Sayyidah, & Suyono. 2014. Reduksi Miskonsepsi Dengan Model Pembelajaran Conceptual Change Pada Konsep Stoikiometri. Dari Journal Of Chemical Education: diakses 16 Maret 2018.
Sudarmo, Unggul. 2009. Miskonsepsi Siswa SMA terhadap Konsep-konsep Kimia. Dari Jurnal: diakses 18 Maret 2018.
Suratno Tantang, 2008. Konstruktivisme, Konsepsi Alternatif dan Perubahan Konseptual dalam Pendidikan IPA. Dari Jurnal: diakses 16 Maret 2018.
Syuendri, 2015. Pembelajaran Perubahan Konseptual: Pilihan Penulisan Skripsi Mahasiswa. Dari Jurnal: diakses 16 Maret 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar