Oleh,
Fridolin V. Borolla
Risky T. Arya
PROBLEMATIKA PERUBAHAN KONSEPTUAL DI SD
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Konsep merupakan bagian dasar yang harus dipahami setiap peserta
didik dalam setiap pembelajaran.
Menurut Hirwan (dalam Susanti, 2004: 4) konsep adalah gagasan atau ide yang
merupakan hasil pikiran manusia yang merangkum beberapa pengalaman mengenai
peristiwa, benda atau fakta. Oleh karena itu pemahaman konsep yang benar sangat
diperlukan agar tidak terjadi kesalahan dalam proses pembelajaran. Di dalam
suatu proses pembelajaran sering kali terdapat berbagai macam hambatan yang
membuat kegiatan belajar mengajar menjadi terganggu. Hambatan yang terjadi
dalam proses pembelajaran adalah rendahnya pemahaman konsep peserta didik.
Pemahaman salah satu konsep berpengaruh terhadap konsep yang lain.
Proses pembelajarannya menjadi rumit karena setiap konsep harus dikuasai dengan
benar sebelum mempelajari konsep lainnya. Dalam proses menyatukan informasi
baru ke dalam struktur kognitif, siswa seringkali mengalami kesulitan bahkan
kegagalan. Hal inilah yang kemudian menjadikan timbulnya berbagai pemahaman
konsep yang berbeda dari setiap siswa, dan memungkinkan terjadinya miskonsepsi.
Miskonsepsi adalah konsepsi yang dimiliki seseorang yang jelas-jelas berbeda
bahkan sering bertentangan dengan konsep ilmiah.
Miskonsepsi yang dialami siswa dalam mempelajari konsep-konsep
yang ada banyak dipengaruhi oleh prakonsepsi siswa yang berasal dari pengalaman
sehari-hari dan lingkungan sekitar. Siswa menghadiri kelas tidak dengan kepala
kosong, melainkan telah membawa sejumlah pengalaman-pengalaman atau
gagasan-gagasan yang dibentuk sebelumnya ketika berinteraksi dengan
lingkungannya.
Prakonsepsi menjadi prasyarat penting untuk mengkonstruksi
pengetahuan dan hasil belajar individu. Hal ini karena tujuan belajar adalah
memasukkan informasi baru ke dalam struktur memori yang ada sehingga
prakonsepsi yang dimiliki siswa digunakan untuk mengasimilasi pengetahuan yang
baru. Proses pembelajaran yang tidak menghiraukan prakonsepsi siswa, akan
mengakibatkan miskonsepsi–miskonsepsi siswa semakin kompleks dan stabil.
Miskonsepsi ini sangat resisten terhadap perubahan. Artinya, miskonsepsi yang
dialami siswa tidak mudah untuk diubah langsung menjadi konsep ilmiah. Hal ini
dikarenakan prakonsepsi siswa memainkan peranan penting dalam mempelajari
konsep-konsep baru dan menjadi acuan ketika siswa harus berhubungan dan
berkomunikasi dengan orang lain, termasuk dalam interaksi dengan guru secara
formal di sekolah.
Mengatasi
miskonsepsi bermakna menginginkan perubahan konsepsi atau konsep pada pembelajar.
Kata konsep bermakna abstraksi dari ciri-ciri sesuatu yang mempermudah manusia
dalam berkomunikasi dan berfikir. Sedangkan konsepsi adalah penafsiran
seseorang tentang suatu konsep. Perubahan konsep itu sendiri adalah suatu
proses bagaimana konsepsi yang baru dapat menggantikan konsepsi yang lama. Atau
dengan kata lain bagaimana merubah pandangan, cara pandang, atau keyakinan
seseorang dari yang sudah tertanam dalam hati dan fikirannya dengan suatu
pandangan atau keyakinan yang baru. proses ini tentunya amat sulit.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan dari
latar belakang yang telah dijabarkan, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
1.
Apa yang dimaksud
dengan konsep?
2.
Apa yang dimaksud
dengan miskonsepsi?
3.
Apa yang dimaksud
dengan perubahan konseptual peserta didik?
4.
Apa yang dimaksud
dengan model pembelajaran perubahan konseptual?
C.
Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah diatas, maka dapat dibentuk tujuan seagai berikut.
1.
Untuk mengetahui
pengertian konsep.
2.
Untuk mengetahui
pengertian miskonsepsi.
3.
Untuk mengetahui
pengertian perubahan konseptual peserta didik.
4.
Untuk mengetahui
model pembelajaran perubahan konseptual
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep
1.
Pengertian Konsep
Konsep
merupakan bagian dasar yang harus dipahami setiap peserta didik dalam suatu
pembelajaran. Konsep merupakan prinsip dasar yang sangat penting dalam proses
belajar. Konsep merupakan sarana seseorang dalam mengklasifikasikan suatu obyek
dan jaringan pemikiran (ide) untuk menenntukan prinsip dan aturan, dan semua
itu merupakan fondasi dari bagaimana jaringan pemikiran atau ide tersebut dapat
tersusun guna menuntut seseorang itu dalam berfikir (Arends dalam Sudarmo,
2009:171).
Pembentukan
konsep meruakan bentuk perolehan konsep yang penting awal. Pembentukan konsep berawal
dari sejak masih anak-anak, konsep yang terbentuk sejak anak-anak itu
berkembang dan mengalami modifikasi-modifikasi sesuai dengan bertambahnya
pengalaman. Konsep yang terbentuk pada tahap ini umumnya merupakan
konsep-konsep konkrit, dan merupakan proses induktif, yaitu berawal dari
abstraksi-abstraksi dari sifat-sifat atau atribut-atribut tertentu yang berasal
dari berbagai stimullus-stimulus. Abstraksi atribut-atribut mula-mula dalam
bentuk yang sederhana yang akhirnya berkembang menjadi lebih kompleks sesuai
dengan bertambahnya pengalaman belajar (Sudarmo, 2009: 172).
B.
Miskonsepsi
1.
Pengertian Miskonsepsi
Menurut
Solehah dan Suyono (2014) menyatakan bahwa miskonsepsi adalah konsepsi yang
dimiliki seseorang yang jelas-jelas berbeda bahkan sering bertentangan dengan
konsep ilmiah. Miskonsepsi yang dialami
siswa dalam mempelajari konsep-konsep yang ada banyak dipengaruhi
oleh prakonsepsi siswa yang berasal dari pengalaman sehari-hari dan
lingkungan sekitar. Siswa menghadiri kelas tidak dengan kepala kosong,
melainkan telah membawa sejumlah pengalaman-pengalaman atau gagasan-gagasan
yang dibentuk sebelumnya ketika berinteraksi dengan lingkungannya.
Paparan di atas menunjukkan bahwa miskonsepsi terjadi karena pengetahuan awal
bertentangan dengan pengetahuan baru secara ilmiah. Namun demikian prakonsepsi
atau pengetahuan awal siswa sangat dibutuhkan untuk dikaitkan dengan
pengetahuan baru yang akan diterima. Sejalan dengan itu, menurut (Solehah
dan Suyono. 2014) prakonsepsi menjadi
prasyarat penting untuk mengkonstruksi pengetahuan dan hasil belajar individu.
Hal ini karena tujuan belajar adalah memasukkan informasi baru ke dalam
struktur memori yang ada sehingga prakonsepsi yang dimiliki siswa digunakan
untuk mengasimilasi pengetahuan yang baru.
2.
Penyebab Miskonsepsi
Menurut Suparno (2013) dalam (Rosmalia, 2016)
menyatakan bahwa penyebab miskonsepsi secara garis besar ada lima kelompok
yaitu: siswa, guru, buku teks, konteks, dan metode mengajar.
1)
Siswa
Miskonsepsi yang berasal dari siswa dapat
dikelompokkan dalam beberapa hal, antara lain.
a.
Prakonsepsi atau konsep awal siswa
Siswa sudah mempunyai konsep awal atau
prakonsepsi tentang suatu bahan sebelum siswa mengikuti pelajaran formal di
bawah bimbingan guru.
b.
Pemikiran Asosiatif Siswa
Asosiasi terhadap istilah-istilah sehari-hari
kadang-kadang juga membuat miskonsepsi. Kata dan istilah yang digunakan oleh
guru dalam proses pembelajaran diasosiasikan lain oleh siswa, karena dalam
kehidupan mereka, kata dan istilah itu mempunyai arti yang lain.
c.
Intuisi yang Salah
Intuisi adalah suatu perasaan dalam diri
seseorang yang secara spontan mengungkapkan sikap atau gagasannya tentang
sesuatu sebelum secara obyektif dan rasional diteliti. Intuisi yang salah dan
perasaan siswa dapat menyebabkan miskonsepsi.
d.
Tahap Perkembangan
Kognitif Siswa
Siswa yang masih
dalam tahap operasional konkret apabila mempelajari bahan yang abstrak akan
sulit menangkap dan sering salah mengerti tentang konsep bahan tersebut.
Perkembangan kognitif siswa yang tidak sesuai dengan bahan yang digeluti dapat
menjadi miskonsepsi siswa.
e.
Kemampuan Siswa
Kemampuan siswa
juga mempengaruhi miskonsepsi siswa. Siswa yang intelegensi matematis-logisnya
kurang tinggi akan mengalami kesulitan dalam menangkap konsep terutama konsep
yang abstrak.
f.
Minat belajar
siswa
Siswa yang berminat
cenderung mempunyai miskonsepsi lebih rendah daripada siswa yang tidak
berminat. Siswa yang tidak berminat apabila salah dalam menangkap suatu bahan
maka tidak berminat juga untuk mencari mana yang benar dan mengubah konsep yang
salah sehingga kesalahan untuk bahan-bahan yang dibangun berdasarkan
minskonsepsi akan semakin menumpuk.
2)
Guru
Guru yang tidak
menguasai bahan atau mengerti bahan secara tidak benar akan menyebabkan siswa
mendapatkan miskonsepsi karena guru yang tidak memahami konsep akan meneruskan
salah pengertian tersebut kepada siswa.
3)
Buku Teks
Buku teks dapat
menyebarkan miskonsepsi yang disebabkan Bahasa yang sulit atau penjelasan yang
tidak benar sehingga minskonsepsi tetap diteruskan.
4)
Konteks
Konteks juga dapat
menjadi penyebab miskonsepsi. Konteks tersebut antara lain pengalaman siswa,
Bahasa sehari-hari, teman lain, keyakinan dan ajaran agama.
5)
Metode mengajar
Metode yang
digunakan guru dapat memunculkan miskonsepsi sehingga guru perlu kritis dengan
metode yang akan digunakan dan tidak membatasi diri dengan satu metode saja.
3.
Identifikasi
Miskonsepsi
Menurut Suwarto, (2013) dalam (Solehah
dan Suyono. 2014) miskonsepsi yang lebih
kompleks dapat menggangu pembentukan konsep ilmiah pada struktur kognitif siswa.
Oleh karena itu, guru hendaknya memperhatikan konsepsi awal yang dibawa siswa
sebelum memberikan konsep yang baru karena setiap siswa memiliki konsepsi
masing-masing berdasarkan pengalaman mereka sebelumnya. Selain itu, miskonsepsi
perlu dideteksi sehingga guru dapat menentukan pembelajaran remidiasi yang
harus dilakukan. Sederhananya mengidentifikasi miskonsepsi siswa sangat
diperlukan sebagai pengetahuan guru sebelum memberikan pengetahuan baru kepada
siswa agar terjadi perubahan konseptual sesuai konsep ilmiah.
Dalam mengidentifikasi miskonsepsi yang dialami oleh
siswa maka guru dapat melakukan tes diagnostic dengan tujuan agar guru dapat
mengetahui miskonsepsi yang dialami oleh siswa. Sejalan dengan itu (Suwarto,
2013) dalam (Septiana, dkk. 2014)
menyatakan bahwa tujuan dilakukannya tes ini adalah untuk menentukan pengajaran
yang perlu dilakukan di masa yang akan datang. Salah satu bentuk tes diagnostik
adalah dengan menggunakan Two-Tier Multiple Choice (TTMC). TTMC adalah
sebuah tes diagnostik berupa soal pilihan ganda bertingkat dua yang
dikembangkan pertama kali oleh David F. Treagust pada tahun 1988.
Tingkat pertama berisi tentang pertanyaan mengenai
konsep yang diujikan sedangkan tingkat kedua berisi alasan untuk setiap jawaban
pada pertanyaan di tingkat pertama sebagai bentuk tes diagnosa. Dengan
menggunakan instrumen ini kemungkinan siswa untuk menebak jawaban benar dapat
diperkecil menjadi 4% (Tuysuz, 2009) dalam (Septiana, dkk. 2014). Dengan kata lain, melalui tes diagnostic bertingkat
maka siswa dalam menjawab pertanyaan dengan menggunakan cara menebak dapat
diminimalisir sehingga guru akan memperoleh informasi yang benar-benar valid
terkait miskonsepsi yang dialami siswa.
4.
Miskonsepsi
Siswa dalam Pembelajaran
Solehah
dan Suyono (2014) dalam proses menyatukan informasi baru ke dalam struktur
kognitif, siswa seringkali mengalami kesulitan bahkan kegagalan. Hal inilah
yang kemudian menjadikan timbulnya berbagai pemahaman konsep yang berbeda dari
setiap siswa, dan memungkinkan terjadinya miskonsepsi. Sesuai dengan hal itu
hasil wawancara yang dilakukan dengan salah satu guru kelas 3 SDN Polowijen 04 memberikan
informasi bahwa guru menemukan miskonsepsi siswa terhadap beberapa materi dan
dipersentasikan sebesar 30% dari 28 jumlah siswa atau sama dengan 8 orang siswa.
Masalah yang muncul adalah misalnya pada materi kebersihan lingkungan. Terdapat
kenyataan bahwa siswa memiliki kebiasaan di rumah dengan membuang sampah
sembarangan. Hal ini tentunya bertentangan dengan ilmu yang diajarkan yaitu membuang
sampah pada tempat yang telah disediakan. Selanjutnya, ditemukan permasalahan
serupa pada SDN Polowijen 1 pada kelas 3, guru mengalami kesulitan dalam
mengatasi miskonsepsi siswa dikarenakan konsentrasi dan perilaku siswa yang
dilatarbelakangi oleh keberadaan siswa yang berasal dari keluarga ekonomi
menengah ke bawah. Orang tua di
rumah tidak memfasilitasi siswa dengan belajar di rumah. Sehingga, siswa saat
datang di sekolah terkadang masih tidak membawa konsep materi yang akan di
pelajari pada saat pertemuan di kelas saat itu. Sejalan dengan itu
menurut (Suwarto, 2013) dalam (Septiana,
dkk. 2014) miskonsepsi yang lebih kompleks dapat menggangu pembentukan konsep
ilmiah pada struktur kognitif siswa. Terdapat pula, miskonsepsi yang dialami siswa dikarenakan pemahaman yang
dimiliki siswa bertolak belakang dengan konsep yang benar. Misal, saat materi
tentang perkalian. Saat menuliskan perkalian dengan metode penjumlahan, siswa
terbalik saat menuliskan cara dengan metode penjumlahan.
Paparan hasil wawancara di atas memiliki kesamaan
miskonsepsi dalam pembelajaran di kelas 4 SDN Polowijen 01.
Hal itu terlihat pada mata pelajaran IPA dengan materi Peduli Terhadap
Lingkungan. Menurut guru tersebut miskonsepsi itu terlihat ketika diadakan
tanya jawab pada apersepsi tentang melestarikan lingkungan di lingkungan masyarakat.
Ditemukan siswa menjawab bahwa dengan melakukan kegiatan penebangan kayu yang
dilakukan oleh orang tuanya dapat membantu pembiayaan kehidupan sehari-hari dan
kebutuhan pendidikannya. Selain itu, terdapat pada materi tentang menghemat
energi, siswa dirumah yang difasilitasi AC oleh orangtuanya, siswa tersebut
menyalakan AC saat merasa panas di dalam rumah. Namun, pada teori atau konsep
materi yang sesungguhnya bahwa penggunaan AC dapat meningkatkan terjadinya
pemanasan global. Tentunya hal ini sangat bertolak belakang dengan konsep awal
siswa dengan konsep yang sesungguhnya.
C. Perubahan Konseptual
1.
Pengertian
Perubahan Konseptual
Teori
pertama tentang perubahan konseptual diusulkan oleh Posner et al dalam (Suratno, 2008) terdapat dua
jenis perubahan konseptual dijelaskan dalam teori ini dengan menggunakan dua
istilah Piaget: asimilasi dan akomodasi. Pertama, konsep baru diasimilasi oleh
struktur pra-konseptual. Kedua, konseptual struktur diakomodasi jika konsep
pada siswa bertentangan dengan konsep baru yang dipelajari. Selanjutnya Posner et
al menyatakan bahwa akomodasi tergantung pada beberapa kondisi. Kondisi ini
tercantum di bawah ini:
a) Ketidakpuasan siswa dengan konsep yang ada.
b) Masuk akalnya konsep baru.
c) Kejelasan konsep baru.
d) Manfaat konsep baru (Hüseyin Küçüközer, 2008).
a) Ketidakpuasan siswa dengan konsep yang ada.
b) Masuk akalnya konsep baru.
c) Kejelasan konsep baru.
d) Manfaat konsep baru (Hüseyin Küçüközer, 2008).
Posner
et al. (1982) dalam (Suratno, 2008) memandang proses perubahan konseptual
diawali oleh proses asimilasi kemudian akomodasi. Akan tetapi, pada umumnya
proses perubahan konseptual cenderung evolusi ketimbang revolusi (Gunstone,
1997) dalam (Suratno, 2008). Sejalan dengan itu menurut Suratno, 2008
menyatakan bahwa istilah perubahan konseptual didefinisikan sebagai suatu
kondisi dimana siswa memegang konsepsi serta keyakinan yang siswa miliki dimana
keduanya (konsepsi dan keyakinan) bertentangan dengan apa yang sedang
dipelajari sehingga siswa memutuskan untuk merubahnya.
Perubahan
konseptual merupakan suatu proses memodifikasi pengetahuan awal siswa (yang
seringkali tidak tepat) menjadi pengetahuan baru yang sesuai dengan pengetahuan
ilmiah atau yang telah disepakati parah ahli (Hedge & Meera, 2012;Docktor & Mestre, 2014; Ryan et al.,
2016 dalam Sutopo, dkk, 2016: 256). Perubahan konseptual memerlukan pembelajaran yang memungkinkan
siswa mengembangkan konsep-konsep baru dan memperbaiki cara berpikir.
2.
Proses
perubahan konseptual dalam pembelajaran
Dalam proses perubahan konseptual terdapat beberapa
proses meliputi proses mengenali (recognizing), mengevaluasi (evaluating)
konsepsi dan keyakinan, kemudian memutuskan (deciding) apakah perlu membangun
ulang (reconstructing) atau tidak konsepsi dan keyakinan tersebut dengan yang
baru (Gunstone, 1994) dalam (Suratno, 2008). Rumusan yang dikemukakan oleh Gunstone sejalan dengan
apa yang dikemukakan oleh Postner et al (1982) dalam (Suratno,
2008) ketidakpuasan terhadap konsepsi yang
ada, intelligible, plausible dan fruitful, dimana ketidakpuasan dan fruitful merupakan faktor penting dalam
proses perubahan konseptual. Ketidakpuasan dan fruitful pada dasarnya secara psikologis sangatlah sulit dan
bergantung kognisi individu, terutama metakognisi. Faktor lain yang
mempengaruhi proses perubahan konseptual adalah faktor kontekstual. Artinya,
siswa bisa saja menerima dan memahami konsep ilmiah pada konteks tertentu,
tetapi bisa saja tetap menggunakan konsepsi awalnya (bersifat miskonsepsi) pada
konteks lain.
Berdasarkan hasil
wawancara di 2 SD yaitu pada SDN Polowijen 1 dan 4, ditemukan bahwa guru dalam
melakukan proses perubahan konseptual kepada siswa masih cenderung menggunakan
ceramah dengan hanya menggunakan proses mengenali hingga mengevaluasi saja,
namun dalam memutuskan dan mengkonstruk ulang konsep yang ada masih belum
dilakukan dengan maksimal. Hal ini dikarenakan, guru juga masih belum menemukan
alternatif lain dalam mengkonstruk ulang konsep yang sudah ada menjadi konsep
yang baru yang nantinya dapat dikaitkan ke dalam kehdupan sehari-hari. Hal ini
juga disebabkan oleh sumber bahan ajar yang berupa buku pegangan yang dirasa
kurang begitu fokus dalam sauaru materi tertentu dan keberagaman pola berpikir
siswa yang masih belum berpikir tingkat tinggi serta siswa yang masih belum
mendapatkan fasilitas penuh dari orangtua mengenai pemehaman dan penguatan
konsep saat berada di rumah.
Posner
et al dalam (Suratno, 2008) mengangkat
empat kondisi sebagai alternative dalam melakukan perubahan konseptual bisa
berlangsung. Pertama, siswa harus
merasa tidak puas dengan konsepnya yang ada. Pembelajar diberi pengalaman
sedemikian rupa sehingga menimbulkan ketidakpercayaannya terhadap konsepnya
bisa menyelesaikan masalah. Kedua,
konsep yang baru (pengganti) harus intelligible;
pembelajar dapat memahami dengan cukup bahwa pengalaman atau stimuli yang
datang dapat dicerna oleh akal pikiran. Ketiga,
konsep baru harus kelihatan plausible.
Plausible bermakna bahwa konsep baru sekurangkurangnya muncul sebagai suafu
solusi yang mampu menyelesaikan masalah ketimbang konsep terdahulu. Keempat, konsep baru haruslah fruitful, yaitu punya kemampuan untuk
membuka peluang-pelung baru bagi penjelajahan pengetahuan.
Sesuai dengan empat kondisi yang seharusnya
ada untuk menciptakan perubahan konsptual kepada anak, guru pada SDN Polowijen
1 dan 4 masih belum dapat menciptakan 4 kondisi tersebut dengan baik
dikarenakan keadaan siswa yang beragam dari latar belakang keluarganya. Guru
merasa kesulitan dengan menciptakan kondisi tersebut juga karena kemauan atau minat
belajar siswa dalam memperoleh pengetahuan masih belum sepenuhnya berjalan
maksimal. Hal ini kembali dikarenakan faktor lingkungan dan orangtua siswa itu
sendiri yang masih kurang maksimal dalam memfasilitasinya. Guru sudah berusaha
menanamkan konsep yang benar kepada siswa, namun saat siswa kembali ke rumah,
siswa tidak dapat menguatkan atau lebih mendalami lagi dengan cara
mengembangkan. Hal ini dikarenakan, siswa sesampainya di rumah hanya
beristirahat atau bermain dengan teman-temannya di rumah. Sehingga, di saat
keesokan harinya guru mengulas kembali siswa lupa bahkan kembali kepada konsep
awal mereka yang salah dikarenakan tidak adanya klarifikasi dan penguatan dari
orangtua.
Selain faktor kontekstual, juga terdapat faktor lain yang
mempengaruhi proses perubahan konseptual pada siswa adalah dalam ingatan jangka
panjang siswa, tidak terbentuk jaringan pengetahuan (network of knowledge),
hanya sekedar tumpukan yang asosiatif saja. Jika hal ini terus menerus terjadi,
maka siswa akan melupakan konsep yang sudah lama diterimanya dan digantikan
dengan konsep yang baru diterimanya. Dengan begitu perubahan konseptual mungkin
saja dialami siswa.
Makna dari suatu konteks di sini adalah dari segi penerapan
konsep, konsepnya sama tetapi contoh kasusnya berbeda. Oleh karena itu,
karakteristik dari perubahan konsep adalah bersifat kontekstual dan tidak stabil
(Gunstone, 1997) dalam (Suratno, 2008). Perubahan konsep yang bersifat jangka panjang dan
stabil baru bisa tercapai bila siswa mengenali hal-hal yang relevan dan sifat
umum dari konsep ilmiah secara kontekstual.
Selain itu, dalam melakukan proses perubahan konseptual terhadap siswa
maka dapat dilakukan dengan menerapkan suatu model yang relevan dengan proses
perubahan konseptual yaitu dengan menggunakan model pembelajaran perubahan
konseptual.
D. Model Pembelajaran Perubahan
Konseptual
Menurut
Solehah dan Suyono (2014) salah satu model pembelajaran yang dapat mereduksi
miskonsepsi siswa yang disebabkan oleh kognisi siswa seperti prakonsepsi/pengetahuan
awal siswa adalah model pembelajaran conceptual change. Hal ini
karena model pembelajaran conceptual change mampu merubah miskonsepsi
atau intuisi-intuisi yang dimiliki siswa menjadi konsep ilmiah dan meningkatkan
pemahaman siswa.
Hal
serupa dikatakan oleh Baser (2006) dalam (Solehah dan Suyono, 2014) bahwa conceptual
change dapat digunakan sebagai model pembelajaran yang berhubungan dengan
miskonsepsi. Hal ini karena conceptual change dirancang untuk membantu
pemerolehan konsep baru sebagai konsekuensi dari pertukaran dan perbedaan dari
konsep-konsep yang ada serta pemaduan antara kedua konsep tersebut. Pada model
pembelajaran conceptual change ini, siswa diminta untuk mengungkapkan
konsepsi dengan cara menafsirkan peristiwa baik yang dikenal maupun tidak.
Kemudian mendiskusikan dan mengevaluasi prasangka (pengetahuan awal).
Berdasarkan paparan di atas maka dapat dikatakan bahwa model pembelajaran conceptual change merupakan salah satu alternative dalam meminimalisir tingkat
miskonsepsi siswa.
Selanjutnya menurut Solehah dan Suyono (2014)
menciptakan konflik konseptual
(konflik kognitif). Cara yang
ditempuh adalah dengan menghadirkan
suatu diskrepansi peristiwa melalui
berbagai bentuk percobaan atau bukti
data yang membantah konsepsi awal siswa. Pada tahap ini diharapkan terjadi proses akomodasi yang menghasilkan konsep baru yang bersifat ilmiah. Tahap terakhir, mendorong dan memandu restrukturisasi konseptual.
Dalam
penerapan model pembelajaran perubahan konseptual, siswa dihadapkan pada tiga
pilihan, yaitu: (1) mempertahankan intuisinya semula, (2) merevisi sebagian
intuisinya melalui proses asimilasi, dan (3) merubah pandangannya yang bersifat
intuisi tersebut dan mengakomodasikan pengetahuan baru. Perubahan konseptual
terjadi ketika siswa memutuskan pada pilihan yang ketiga. Agar terjadi proses
perubahan konseptual, belajar melibatkan pembangkitan dan restrukturisasi
konsepsi-konsepsi yang dibawa oleh siswa sebelum pembelajaran (Brook &
Brook, 1993) dalam (Rapih dan Sutaryanto. 2017). Penerapan model pembelajaran
perubahan konseptual akan berimplikasi bahwa mengajar bukan hanya melakukan
transmisi pengetahuan tetapi memfasilitasi dan memediasi agar terjadi proses
negosiasi makna menuju pada proses perubahan konseptual (Hynd, et al,. 1994)
dalam (Rapih dan Sutaryanto. 2017).
Dalam proses perubahan konseptual terdapat beberapa
proses meliputi proses mengenali (recognizing), mengevaluasi (evaluating)
konsepsi dan keyakinan, kemudian memutuskan (deciding) apakah perlu membangun
ulang (reconstructing) atau tidak konsepsi dan keyakinan tersebut dengan yang
baru (Gunstone,1994) dalam (Suratno, 2008). Namun, pada dasarnya,
sintaktikal dari strategi ini meliputi tiga tahapan utama (Anderson, 1987) dalam
(Suratno, 2008) yaitu tahap persiapan perubahan konseptual, tahap penyajian
konsep dan tahap penerapan dan integrasi. Pada tahap persiapan, siswa mulai
diajak untuk memikirkan fenomena yang akan diajarkan dalam, mendiskusikan
penjelasan tiap siswa serta diarahkan untuk menyadari keterbatasan alternative
conception yang mereka miliki. Pada tahap penyajian, guru menjelaskan konsep-konsep
dasar. Pada tahap penerapan dan integrasi, siswa menerapkan konsep ke dalam
konteks yang berbeda serta mengintegrasikan konsep yang telah mereka pahami.
Adapun
langkah-langkah dalam pelaksanaan model pembelajaran perubahan konseptual
menurut Posner Et Al dalam (Periyanti, dkk. 2015) sebagai berikut:
1.
Sajian masalah konseptual dan kontekstual
2.
Konfrontasi miskonsepsi terkait dengan
masalah-masalah tersebut.
3.
Konfrontasi sangakalan berikut
strategi-strategi demonstrasi, analogi, atau contoh-contoh tandingan.
4.
Konfrontasi pembuktian konsep dan prinsip
secara ilmiah.
5.
Konfrontasi materi dan contoh-contoh
kontekstual.
6.
Konfrontasi pertanyaan-pertanyaan untuk
memperluas pemahaman dan penerapan pengetahuan secara bermakna
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembelajaran yang baik dan ideal adalah
pembelajaran yang mampu memahamkan konsep ilmiah kepada struktur kognitif siswa
untuk mereduksi miskonsepsi yang diawali dengan prakonsepsi. Prakonsepsi siswa
yang cenderung miskonsepsi bukan mutlak sesuatu yang keliru terhadap konsep
ilmiah, namun merupakan suatu pengetahuan yang bersumber dari pengalam
sehari-hari dalam leingkungan dimana siswa itu bersosialisasi. Miskonsepsi
tersebut haruslah diidentifikasi oleh guru sebelum memulai pembelajaran dengan
cara mengadakan tes diagnostic yaitu dengan melakukan tes pilihan ganda
bertingkat atau Two-Tier Multiple
Choice (TTMC). Miskonsepsi
tersebut perlu dilakukan sebuah tindakan oleh guru yaitu dengan melakukan
perubahan konseptual melalui proses asimilasi dan akomodasi pada struktur
kognitif siswa.
Perubahan
konseptual tersebut diperlukan agar pengetahuan siswa yang sebelumnya
bertentangan dengan teori secara ilmiah yang disepakati oleh para ahli menjadi
searah. Kendati demikian, perubahan konseptual tidak semudah membalikan telapak
tangan. Dalam proses perubahan konseptual tentunya terdapat kesulitan-kesulitan
yang dihadapi oleh guru. Oleh karena itu, salah satu cara untuk dapat melakukan
perubahan konseptual adalah dengan menerapkan model pembelajaran perubahan
konseptual atau conseptual change.
DAFTAR RUJUKAN
Rapih, Subroto
& Sutaryanto. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran Perubahan
Konseptual (MPPK) Terhadap Hasil Belajar IPS dan Sikap Multikultural Siswa
Sekolah Dasar Berlatar Belakang Monokultur. Dari Jurnal: diakses 16 Maret 2018.
Rosmalia, Putri, Linda. 2016. Miskonsepsi
Pembelajaran Matematika. Tesis: diakses 17 Maret 2018.
Septiana, Dwi. Zulfiani. Noor, Fadilah Meiry.
2014. Identifikasi Miskonsepsi
Siswa Pada Konsep Archaebacteria Dan Eubacteria Menggunakan Two-Tier Multiple Choice. Dari Jurnal: diakses 16 Maret
2018.
Sholehah Sayyidah, &
Suyono. 2014. Reduksi Miskonsepsi Dengan Model Pembelajaran Conceptual Change Pada Konsep Stoikiometri. Dari Journal Of Chemical Education: diakses
16 Maret 2018.
Sudarmo, Unggul. 2009.
Miskonsepsi Siswa SMA terhadap Konsep-konsep Kimia. Dari Jurnal: diakses
18 Maret 2018.
Suratno Tantang, 2008. Konstruktivisme,
Konsepsi Alternatif dan Perubahan Konseptual dalam Pendidikan IPA.
Dari Jurnal: diakses 16 Maret 2018.
Syuendri, 2015. Pembelajaran Perubahan Konseptual: Pilihan Penulisan Skripsi Mahasiswa. Dari
Jurnal: diakses 16 Maret 2018.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar